Jumat, 18 Juni 2021

Dasar dan Hakekat Spiritualitas Pelayan

Pelayan tertahbis harus dipahami dalam bingkai Kristologi. Dalam pelayanannya ia diharapkan menyerupai Kristus Kepala dan Gembala. Mengupayakan keserupaan dengan Kristus sebagai Kepala yang menghamba dan sebagai Gembala Baik. Dengan demikian ia berpartisipasi dalam pelayanan Kristus dan menghayati spiritualitas pelayanan.


1. Keserupaan dengan Kristus Kepala yang Menghamba


Kristus Kepala dimengerti dalam arti Hamba, sesuai dengan apa yang dikatakan-Nya tentang diri-Nya sendiri: “Anak Manusia datang tidak untuk dilayani melainkan untuk melayani, dan untuk menyerahkan hidup-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang” (Mk. 10:5). Pelayanan-Nya sebagai Hamba nyata dalam pengabdian-Nya dengan memberikan diri-Nya bahkan menyerahkan hidup-Nya di kayu salib. Hamba dalam arti berserah diri sepenuhnya dalam cinta kasih dan kerendahan hati. Ia merendahkan diri sebagai seorang Hamba dan taat sampai mati di salib (Flp 2:7-8). Semuanya itu dilakukan-Nya dalam kepatuhan sempurna kepada Bapa. Dialah satu-satunya Hamba Allah sejati yang menderita wafat. Dalam kesesuaian arti Hamba inilah kita pahami Kristus Kepala. Demikian kekepalaan-Nya tepat sesuai dengan kehambaan-Nya; otoritas-Nya sebagai Kepala bersesuaian dengan pengabdian-Nya sebagai Hamba.

Menurut pengertian refleksif Yunani, kata ‘kepala’ berarti pusat kegiatan hidup seluruh tubuh. Kalau kita pelayan yang tertahbis harus menyerupai Kristus Sang Kepala, ini berarti bahwa pelayan berpartisipasi dalam kegiatan Kristus sebagai Kepala, sebagai pusat dan dasar kegiatan hidup maupun hidup Gereja. Maka kegiatan para pelayan ialah kegiatan yang berkisar dan bersumberkan pada realitas Kristus sebagai pusat dan prinsip hidup kristiani. Bagi para pelayan, otoritas gerejani berarti membangun umat ke dalam kebenaran dan kesucian. Dengan kata lain, otoritas Kristus sebagai Kepala Gereja adalah sebagai prinsip hidup yang menyelamatkan dan memanggil untuk hidup ke kesucian, yang dikehendaki oleh Bapa (I Tes 4:3; Ef 1:4). Dalam lingkup itulah kiranya dapat dimengerti otoritas pelayan sebagai partisipasi otoritas Kristus Kepala. Karena otoritas itu otoritas yang bergerak dalam bidang hidup yang menuju keselamatan dan kesucian, maka otoritas itu merupakan otoritas yang bersifat pelayanan. Realitas hamba dalam hidup seorang pelayan yang berpartisipasi pada realitas Hamba dari hidup Kristus, merupakan realitas kepemimpinan seorang pelayan yang ikut ambil bagian pula pada kepemimpinan Kristus sebagai prinsip hidup. Dengan begitu, prinsip hidup maupun kegiatan hidup itu bersifat pelayanan.

Tujuan otoritas itu bukanlah untuk membentuk tatanan sosial, betapapun baiknya, melainkan memperkuat kesatuan rohani Gereja (Ef 4:1-6). Kegiatan-kegiatan para pelayan yang bersumberkan pada otoritas Kristus sendiri, dilaksanakan dalam semangat Hamba Kristus sendiri dan dalam pembinaan hidup menggereja sebagai Tubuh Kristus. Dengan kata lain, kita menjadi pelayan, agar prinsip dan sumber hidup itu (Kristus sendiri) menjadi nyata dan aktual di dalam Gereja.


2. Keserupaan dengan Kristus Sang Gembala


Para pelayan berpartisipasi dalam penggembalaan Yesus Kristus. Ia disebut Gembala Baik atas tiga alasan. Pertama, karena Yesus mengenal domba-domba dan mereka mengenal-Nya. Kedua, sebab Ia menyatukan domba-domba. Ketiga, lantaran Ia menyerahkan segenap hidup-Nya bagi domba-domba.

Yesus adalah Gembala Baik, karena Ia mengenal domba-dombaNya, dan domba-domba mengenal-Nya. Pengenalan yang mutual ini merupakan suatu hubungan personal yang mendalam dan penuh cinta, persahabatan yang intim. Misi pengenalan Yesus akan domba-domba adalah membawa mereka pada pengenalan akan Allah. Orang yang beriman pada Yesus, mengenal dan bersatu dengan-Nya, dengan demikian melalui Yesus, orang itu dapat mengenal Allah. Berkat pengenalan akan Allah orang beriman sampai pada keselamatan dan kehidupan. Sungguh pengenalan akan Allah ini dialami sebagai rahmat kehidupan abadi yang telah dimulai pada diri Yesus.

Yesus adalah Gembala Baik, sebab Ia mempersatukan domba-domba. Gembala itu satu dan, oleh karenanya, kawanan gembalaan itu harus satu. Maka Yesus sebagai gembala berupaya menyatukan domba-domba dalam satu komunitas baru yang percaya kepada-Nya. Yesus sebagai Gembala dan penuntun bagi kawanan (I Ptr 2:25; Ibr 13:20) yang membangun kesatuan di sekitar Gembala. Mereka membentuk satu keluarga dalam Yesus Kristus, sehingga mereka dapat digiring dan dibimbing bersama (Yoh 10:3). Mereka sebagai domba-domba gembalaan-Nya harus mendengarkan suara-Nya, supaya mereka bersatu menjadi satu kawanan dengan satu Gembala sesuai dengan doa Yesus bagi domba-domba-Nya (Yoh 17:11. 21).

Yesus adalah Gembala Baik lantaran menyerahkan nyawa-Nya di salib demi domba-domba sebagai puncak penggembalaan-Nya. Dengan kematian itu Ia memperlihatkan kebebasan dan tujuan dari kematian-Nya. Dengan bebas Ia memilih untuk mempersembahkan dan menyerahkan tubuh-Nya demi kehidupan dunia (Yoh 6:51). Penyerahan diri-Nya bagi domba-domba menunjukkan kerelaan-Nya untuk mempersembahkan diri dalam kepenuhan cinta yang sesuai dengan kehendak Bapa. Karena kematian-Nya dikehendaki oleh Bapa-Nya, maka Ia dengan rela memberikan nyawa-Nya. Kehendak-Nya ialah mematuhi kehendak Bapa yang menjadi prinsip utama dalam kehidupan-Nya. Makanan-Nya ialah menjalankan kehendak Dia yang mengutus-Nya (Yoh 4:34). Selama pelayanan-Nya Ia selalu mencari kehendak Allah Bapa sang pengutus (Yoh 8:29) dan melaksanakannya untuk menyatakan cinta Bapa pada dunia. Inilah ukuran cintaNya pada domba-domba. Dalam pelayanan-Nya Gembal Baik justru berjalan mendahului kawanan dan bahkan mempertaruhkan nyawa bagi keselamatan domba. Orientasi-Nya adalah keselamatan domba, sebab keselamatan domba milik-Nyalah yang paling utama bagi-Nya. Keberadaan diri Yesus sebagai Gembala senantiasa terarah pada keberadaan milik-Nya. Yesus mencurahkan segenap diri-Nya demi kepentingan domba, bukti keterikatan-Nya pada domba milikNya. Ia menuntun kawanan milik-Nya kembali kepada Allah. Singkat kata, Yesus Kristus adalah Gembala Baik, sebab Ia mengemban dan melaksanakan dengan sempurna tugas pelayanan-Nya berupa penggembalaan: mengenal setiap domba dalam kawanan, melibatkan diri padanya, bahkan dengan menyerahkan diri-Nya penuh utuh, demi menyatunya kawanan dan untuk menuntunnya pulang ke rumah Bapa.

Serah diri Yesus Kristus tidak hanya pada saat wafat-Nya di kayu salib tetapi meliputi seluruh hidup-Nya. Segenap hidup-Nya itu merupakan sumber dan rangkuman serta pelaksanaan cinta kasih penggembalaan-Nya, ditujukan pada Gereja. Hal ini benar, sebab Kristus sendiri “mengasihi Gereja dan menyerahkan diri bagi-Nya” (Ef 5:25) dan, oleh karennya, harus berlaku bagi para pelayan. Berkat tahbisannya para pelayan terpanggil untuk menyerupai Yesus Gembala Baik dan untuk meneladan serta menghayati cinta kasih penggembalaan-Nya (pastoral). Berpartisipasinya para pelayan dalam cinta kasih pastoral Yesus merupakan kurnia yang semata-mata dianugerahkan oleh Roh Kudus, sekaligus menjadi suatu tugas dan panggilan baginya sendiri. Oleh karena itu, prinsip batin atau daya kekuatan yang menjiwai dan menuntun hidup para pelayan untuk menyerupai Kristus Kepala dan Gembala ialah cinta kasih penggembalaan-Nya. Dengan keutamaan cinta kasih penggembalaan-Nya pada Gereja-Nya, para pelayan mencontoh Kristus dalam hal penyerahan diri serta pengabdian. Bukan apa yang pertama-tama kita buat, melainkan penyerahan dirilah yang menampakkan kasih Kristus terhadap kawanan-Nya. Cinta kasih penggembalaan menentukan cara berpikir (pola pikir) dan cara bertindak (perilaku) serta cara pelayan berhubungan dengan sesama, dan semua ini mengajukan tuntutan-tuntutan khas kepada para pelayan. Dengan demikian, cinta kasih penggembalaan bagi pelayan sendiri menjadi ciri pelakasanaan pelayanannya sebagai tugas cinta kasih; begitulah ia menanggapi panggilan untuk melayani.


3. Partisipasi dalam Pelayanan Kristus


Dari uraian di atas jelaslah bahwa ciri khas Kristus sebagai Kepala dan Gembala adalah serah diri-Nya. Ia memberikan diri-Nya kepada dunia yang dilayani-Nya. Penyerahan diri-Nya itulah wujud pelayanan-Nya. Oleh karena itu, dalam upaya menyerupai Kristus para pelayan harus masuk ke dalam dan ambil bagian dalam pelayanan-Nya dengan bertindak atas nama-Nya untuk membangun tubuh-Nya. Dengan demikian menjadi pentinglah merefleksikan lebih jauh arti pelayanan Kristus sendiri untuk memahami hakekat pelayan(an).

Pelayanan Kristus langsung ditujukan kepada komunitas para rasul dan para murid. Pengabdian yang bersifat melayani ini berasal dari Bapa (Yoh 13: 1. 3; Mk 10: 40; Mt 20: 23) dan dilaksanakan atas dasar kekuatan Roh Kudus (Lk 4: 18-21). Pelayanan Yesus berupa aksi (tindakan) tertentu dan demikian bersifat kategorial. Meskipun begitu, tindakan pelayanan tersebut mengandung nilai transendental, karena bersumber dari Allah, terlaksana berkat Roh Kudus dan berdasarkan tindakan personal Yesus sendiri yang keluar dari dari-Nya dan yang ‘mengatasi’ diri-Nya. Posisi-Nya sebagai Putera Allah menentukan dan menjelaskan tindakan kategorial pelayanan-Nya. Ia subyek pelaku pelayanan tidak hanya menentukan siapa diri-Nya, tetapi juga memberikan ciri khas tindakan itu, justru karena dilakukan-Nya. Ciri khasnya ialah kepentingan keselamatan untuk menjawab kebutuhan orang yang menerima pelayanan-Nya, yang harus diwahyukan oleh Allah sendiri. Ia taat kepada Bapa-Nya dan inilah wujud hubungan-Nya dengan Allah. Sedangkan hubungan-Nya dengan orang yang dilayani lebih dapat dimengerti dalam hubungan solidaritas seraya tetap mempertahankan otoritas-Nya, otoritas Kepala yang menghamba. Hal ini dimungkinkan oleh dasar pelayanan-Nya yang bukan bersifat timbal balik (take and give) melainkan lepas bebas, yang dalam bahasa penginjil Yohanes disebut pelayanan cinta, cinta Bapa dan cinta Yesus kepada milik-Nya yang dilayani-Nya. Karena pelayanan-Nya berdasarkan cinta, Yesus tetap melayani meskipun tidak ditanggapi oleh mereka yang dilayani. Cinta Yesus, sebagai kondisi pelayanan itu adalah tanpa syarat dan bersifat transendental, hanya untuk keselamatan.
Sejarah realitas pelayanan dan semangat pelayanan dalam hidup umat beriman sudah barang tentu mewarnai seluruh hidup Gereja sejak permulaan sampai sekarang. Tetapi perkembangan pada abad ke-19, baik dalam Gereja Protestan maupun dalam Gereja Katolik Roma, memberi warna tersendiri bagi Gereja sehubungan dengan pelayanan, yang secara langsung mempengaruhi refleksi pelayanan masa kini. Pada umumnya melalui suatu cara yakni pelayanan kepada orang yang membutuhkan, baru kemudian diikuti dengan pemahaman teologis.

Gereja Evangelis Jerman melalui Theodor Fliedner (1800-1864) dan J. H. Wichern (1808-1881) yang langsung menerjuni karya pastoral, sangat mempengaruhi teologi pelayanan Gerhard Uhlhorn. Dalam Gereja Katolik pada abad ke-19 kesadaran akan dimensi pelayanan bertumbuh-kembang melalui gerakan keadilan sosial, yang mencapai puncaknya lewat ajaran sosial Paus Leo XIII. Pengertian pelayanan, baik bagi Gereja Protestan maupun bagi Gereja Katolik, pertama-tama tumbuh karena mau memberi jawaban praktis kepada situasi kebutuhan tertentu, baru kemudian terbuka bagi refleksi religius yang lebih mendalam akan peranan Gereja di dunia dan akan hidup internal Gereja sendiri. Pada abad ke-20 ini program yang berorientasikan pelayanan lebih dikembangkan, mis. dengan Injil Sosial; karangan mengenai Diakonia oleh Wilhelm Brandt dan Karl Barth. Sedangkan dalam Kristologi muncul pengertian tentang Kristus Manusia bagi orang lain (oleh Diterich Bonhoeffer) dan dilengkapi dengan Kristus Hamba (oleh Zimerli dan Joachin Jeremiah).

Dalam Gereja Katolik, perkembangan nampak jelas lewat ensiklik-ensiklik sosial, tetapi juga melalui dua orang pemikir: Yves Congar dan Jean Colson. Kedua tokoh ini menekankan pentingnya arti pelayanan bagi Gereja sendiri bahkan menekankannya sebagai ciri khas Gereja. Gereja sejati ialah Gereja Pelayanan.
Berdasarkan semangat ekumenisme yang mulai berkembang dan semangat pembukaan Konsili Vatikan II kiranya dapat diraba dan diikuti jejak pengertian dan kesadaran pelayanan dalam Gereja. Pertama, dalam suasana itu ada saling hormat akan pengalaman dan refleksi teologi, meski berbeda, namun saling terbuka dan memberikan pengaruh. Kedua, kehendak Yohanes XXIII mengadakan konsili ialah untuk membuat Gereja lebih mampu melayani dalam rangka membawa manusia kepada Injil. Konsili juga bersifat pastoral, mau menjawab kebutuhan zaman. Dalam konteks inilah kiranya pelayanan dapat dan perlu dimengerti.

Tekanan refleksi tentang pelayanan diletakkan lebih pada mutu kegiatan ministerial sebagai pelayanan, seperti yang dikatakan bahwa pelayan ialah apa yang dilakukan. Penekanan seperti itu akan bisa menjurus ke arah pemahaman fungsional tentang pelayanan gembala. Oleh karena tindakan pelayanan yang dijalankan oleh gembala itu bercirikan kategorial dan oleh karena merupakan titik pusat pelayanan, maka gema pada individu tidaklah mendalam, meskipun ada bekas dalam hidup seorang gembala. Namun diakui bahwa kemampuan untuk melayani secara efektif, datang dari Allah. Pelayanan ini demi kepentingan komunitas umat beriman. Oleh karena itu, harus diupayakan apa yang menjadi isi dari kepentingan pelayanan bila berhadapan dengan kebutuhan konkrit umat. Komunitas beriman yang dilayani tidak hanya menerima melainkan juga menentukan keuntungan yang diterima dari pelayanan dan menentukan pula kegiatan kategorial yang diperlukan untuk kebaikan mereka. Dalam kegiatan pelayanan ini terjadilah hubungan antara pribadi pelayan yang melayani dan orang yang dilayani. Hubungan ini bisa menjadi hubungan keterlibatan yang mendalam. Betapapun mendalamnya hubungan itu, namun pelayan yang melayani tetap menjadi pelayan bagi orang yang dilayani. Hubungan itu mempunyai dua aspek. Pertama, sebagai orang yang secara khas (berkat tahbisan) mengaktuasikan pelayanan Yesus kepada komunitas Gereja, para pelayan ikut ambil bagian otoritas Yesus dalam pelayanan-Nya, karena itu hubungan tersebut bersifat otoriter dan solider (otoriter dalam arti otoritas Kristus Kepala yang menghamba). Kedua, sebagai subyek yang menerima pelayanan keselamatan Yesus, pelayan berdiri sejajar dengan para anggota komunitas Gereja yang sama-sama membutuhkan pelayanan keselamatan Yesus. Hubungan pelayan dengan (anggota) Gereja didasarkan atas hubungan orang yang sama-sama memerlukan keselamatan Kristus. Dalam arti ini, hidup seorang pelayan juga ditandai oleh hidup yang berdimensi kontemplatif, yakni memerlukan keselamatan Kristus, dan berdimensi pelayanan, yaitu menyampaikan keselamatan Kristus. Hubungan antara keduanya terletak bahwa pelayanan dari seorang pelayan tertahbis harus pula mengungkapkan kebutuhan dirinya yang memerlukan keselamatan Kristus. Di samping menyadari hubungan pelayanan tersebut si pelayan mendalami motivasi pelayanannya. Motivasi untuk melakukan pelayanan tidak hanya terletak pada ‘apa’ yang dilakukan Yesus, tetapi juga pada ‘karena’ Yesus melakukannya sendiri dengan cinta. Si Pelayan ambil bagian cinta Yesus yang tanpa syarat dan tidak resiprok, sesuai dengan keperluan orang yang dilayani. Oleh karena itu, pelayan masih harus lagi memperdalam masalah isi pelayanan itu sendiri untuk menjawab tepat kebutuhan orang yang dilayani, ia tidak hanya sekedar mengerti motivasi pelayanannya sebagai partisipasi dalam pelayanan Kristus.

Secara singkat, pelayan tertahbis berpartisipasi dalam pelayanan Kristus sebagai Kepala dan Gembala Gereja dalam rangka menyerupai-Nya. Dasar, hakekat dan spiritualitas pelayan(annya) sungguh bersifat kristologis.


4. Spiritualitas: Hati


Otoritas (kewibawaan) pelayan(an) menjalankan roda kehidupan komunitas Gereja, berdasar pada spiritualitas. Spiritualitas digambarkan sebagai “kehidupan dalam Kristus dan sebagai suatu proses perjalanan kesetiaan yang semakin berkembang, di mana kita dipimpin oleh Roh Kudus dan oleh kekuatan-Nya kita menjadi serupa dengan Kristus, berada dalam persekutuan cinta yang sempurna dan dalam pengabdian terhadap Gereja”. Spiritualitas demikan dihayati dengan iman dan dalam relasi dengan Tuhan Yesus sesuai dengan lingkup hidup, dimensi serta peran yang dilakoni dalam suka-duka, dalam keterdugaan dan ketakterdugaan, dalam situasi hidup sehari-hari, dalam sikap harian terhadap sesama. Di mana dan bagaimana kita mengolah kerohanian (spiritualitas) kita ?
Bertolaklah “ke tempat yang dalam” (Lk 5:4). Isi atau kandungan yang ada di tempat dalam, tak langsung tampak di mata. Di sana ada yang tersembunyi atau tersimpan. “Tempat yang dalam” ditangkap sebagai hati manusia. G. K. Forbes pernah menulis: “The human heart is a deep water, a mystery”. Henry J. M. Nouwen menambah: “Hati kita manusia bukan hanya tempat di mana Tuhan telah bersemayam, tetapi juga tempat di mana Setan melancarkan serangan-serangannya yang paling dashyat”.

Konon malaikat Gabriel pernah menghadap Tuhan, untuk menawarkan tempat istirahat yang nyaman, katanya: “Tuhan, ada tempat yang dekat, aman untuk beristirahat: hati manusia!”. Tuhan mengangguk setuju. Sejak itulah Tuhan bersemayam dalam hati manusia, disertai kedamaian, sukacita dan kasih.
Sebaliknya, Yesus pernah bersabda: “Tidak tahukah kamu bahwa dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang” (Mt. 15: 19).

Maka dalam hati manusia terdapat segala yang indah dan mulia, juga segala yang kotor dan menajiskan. Dari perspektif hati dan dalam rangka mengembangkan spiritualitas sesuai dengan lingkup, dimensi dan peran yang kita lakoni, akan kita cermati tiga matra hidup, yakni: doa batin, pelayanan dan persaudaraan.


4.1. Doa Hati


Umat awam kita bisa saja tak merasa diwajibkan berdoa. Mereka berdoa kalau ingin atau terdorong oleh kebutuhan. Sedangkan kita para pelayan yang tertahbis dibebani rasa wajib untuk berdoa, juga kalaupun tidak merasa ingin atau tidak terdorong oleh kebutuhan.

Mungkin di bawah sadar, ada paham tentang doa yang tidak keliru tetapi mengandung benih frustrasi. Nampak dalam kedua paham doa berikut.

Pertama, doa itu dialog dengan Tuhan. Mis. ke dalam doa batin aku menghadapkan suatu masalah yang menyangkut relasi atau pekerjaan, kepada Tuhan. Kuceritakan kepada Tuhan dalam keheningan. Kemudian aku menemukan suatu solusi. Tetapi muncul keraguan: apakah ini solusi dari Tuhan atau dari penemuanku sendiri? Keraguan begini mudah muncul, istimewa karena solusi tidak sungguh memuaskan. Doa yang kuanggap dialog dengan Tuhan, jangan-jangan monolog batin saja. Beberapa kali terjadi, aku pun jadi skeptis. Tetapi karena berdoa itu wajib, maka akhirnya yang muncul: frustrasi. Doa batin jadi kering dan menjadi beban saja. Kedua, Doa batin itu merenung tentang Allah. Paham ini juga menyimpan benih frustrasi, meskipun juga tak keliru. Dengan paham ini, selagi berdoa batin, entah itu renungan hening atau meditasi, aku berpikir-pikir tentang Tuhan dan kehendak-Nya untuk mendapatkan gagasan yang baru atau yang lebih dalam. Doa batin ini menjadi kegiatan mental intelektual. Tetapi berpikir tentang Tuhan kan jarang spontan. Pikiran spontan biasanya berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan yang mendesak, dan ini lebih konkrit. Makin jauh meniti panggilan ini, biasanya juga makin banyak tugas dan kebutuhan. Tiap kali harus merenung tentang Tuhan, akhirnya jadi meletihkan juga. Wajib doa menjadi sumber frustrasi.

Seorang pengamat hidup rohani menulis: “Dalam relasi dengan Tuhan, pengetahuan intelektual itu mengandung racun. Racun memang perlu ditelan dalam obat-obatan tetapi dalam dosis kecil.

Para religius (kita yang terpanggil) kebanyakan mengalami overdosis. Mereka terbiasa hidup “dari leher ke atas” (Anthony de Mello). Terhadap masalah ini bisa ditawarkan suatu alternatif, yakni: Doa Hati. Hati dalam pengertian Yudeo Kristiani tidak berarti perasaan saja tetapi sumber energi, baik energi fisik, emosional maupun moral.
Ada dua macam doa hati yang pantas dicoba: doa singkat polos dan doa syafaat, untuk memelihara hati yang berkerohanian (spiritualitas).


4.1.1. Doa Singkat yang Polos


Merupakan doa yang sederhana. Doa anak-anak. Ungkapan hati yang polos, entah bersyukur, memuji atau memohon. Mendoakan maksudnya to the point. Kalau perlu diulang-ulang. Jangan bertele-tele (Mt 6: 5-15) dan bertekunlah (Lk 11: 5-8), demikian nasihat Yesus.

Ada contoh doa yang singkat dan polos, keluar dari hati dan diulang-ulang: “Yesus Anak Daud, kasihanilah aku” (Mk 10:47), begitulah si buta Bartimeus berdoa. Atau “Kasihanilah ya Tuhan Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita” (Mt 15:22), itulah doa perempuan Kanaan. Tradisi Hesikasme memanjaatkan doa singkat, dari hati dan diulang-ulang, dengan bibir, lalu dalam batin dengan irama pernafasan. Kita kenal “doa Yesus” dari tradisi ini dari seorang peziarah.

Tradisi Benediktin mewariskan doa hati lewat Lectio Divina (Bacaan Ilahi). Kita baca (lection) Kitab Suci; kalau ada kalimat atau kata yang menarik, itu diulang-ulang (meditatio), lalu ditanggapi dengan sebuah doa (oratio), dengan nasihat: Oratio sit, brevis et pura – doa hendaklah singkat dan murni (tanpa gangguan pikiran yang melantur).


4.1.2. Doa Syafaat
Berati doa permohonan untuk orang lain. Doa begini jarang membosankan, karena biasa menjawab kebutuhan, apalagi kalau doa syafaat itu untuk orang sakit atau orang kesusahan atau untuk jiwa orang yang meninggal. Orang minta doa, mis. saat perpisahan, sebagai penutup surat, atau dalam kesempatan-kesempatan tertentu. Betapa pantas permintaan itu kita penuhi. Mungkin itu merupakan satu-satunya jasa baik dan ungkapan kasih kita bagi yang meminta.

Beberapa contoh dan nasihat sehubungan dengan doa syafaat yang memberi inspirasi. Yesus berdoa bagi murid-murid-Nya (Yoh 17:1-26). Abraham berdoa syafaat bagi Sodom (Kel 18:16-33). Musa memohon berkat bagi suku-suku Israel (Ul 33:1-29). Nasihat Paulus bagi Timoteus untuk berdoa syafaat (I Tim 2:1-4).

Ada satu doa syafaat yang hanya diajarkan oleh Kristus, tidak oleh pemimpin agama lain manapun, ialah berdoa untuk musuh (Mt 5:43-48). Yesus sendiri, ketika tergantung di Salib, berdoa untuk para musuh-Nya: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka” (Kis 7:60). Berdoa memohon berkat Tuhan untuk orang yang merugikan kita, atau yang menyakiti hati kita, atau yang memfitnah kita, sungguh tidak mudah. Kalau kita mengangkat seorang ‘musuh’ ke hadapan Allah untuk diberkati, kita masuk ke dalam misteri agung belas kasihan Allah. Itulah sebabnya beberapa orang kudus menganggap berdoa untuk musuh adalah tanda dan syarat kesempurnaan. Sabda Yesus tentang doa untuk musuh ditutup demikian: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna” (Mt 5:48).


4.2. Pelayanan
Ada dua macam pelayanan yang biasa kita lakukan: pelayanan kepada Allah dan pelayanan kepada sesama di dalam Kerajaan Allah. Untuk dapat masuk ke tempat yang dalam (yakni hati) dari pelayanan ini kita bisa belajar dari pengalaman Maria dan Marta (Lk 10:38-42) dan dari Tuhan Yesus sendiri.

Maria adalah contoh orang yang langsung melayani Allah. “ Ia duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya” (39). Kalau kita berbuat seperti Maria, dengan membaca dan merenungkan firman, bermeditasi, berdoa, beribadat, menyelenggarakan perjamuan, maka jenis pelayanan ini baiklah diberi waktu yang terbaik meskipun terbatas, karena memerlukan fokus perhatian khusus. Bapa-bapa (pertapa) padang gurun menunjuk pada ‘nepsis’ (keugaharian mental) sebagai pemelihara keterfokusan perhatian ini.

Marta adalah contoh pelayanan di dalam Kerajaan Allah (service in the Kingdom). Ia sibuk melayani, dengan tegang dan penuh kekhawatiran. Bagi Marta, Yesus adalah sahabat yang ia cintai dan tamu yang ia hargai. Maka ia menjamu sebaik-baiknya. Dalam pelayanannya ia terperosok ke pasir di dalam air: kekuatiran dan kejengkelan. Agaknya ia berpendapat bahwa pelayanannya senidir lebih baik dari pada pelayanan Maria. Maka ia dengan polos mengkritik Maria dan Yesus (40).

Pelayanan di dalam Kerajaan Allah, di bidang kesehatan, pendidikan, sosial dan pastoral, memerlukan kewaspadaan terhadap pasir di dalam air, ialah motivasi yang mendasari atau sikap batin yang menyertai karya pelayanan itu. Menggeluti karya sedemikian rupa hingga menganggap pelayanannya sendiri itulah yang paling penting. Kemasukan racun egoisme dan pamrih pribadi, cari nama dan keuntungan lain sedemikian rupa hingga pelayanan berubah menjadi penguasaan. Melayani dengan kemarahan bukan dengan syukur. Kemarahan gampang muncul dari pengalaman disakiti, ditolak, dikecewakan. Bekerja dengan dasar kemarahan, gampang menjadi kompulsif (memaksakan).

Sedangkan syukur lahir dari pengalaman disembuhkan, diterima dan dihargai. Pelayanan berdasarkan syukur ini sabar dan memerdekakan, tidak menuntut harus melihat hasil.
Selanjutnya dalam pelayanan kita pantas melihat Yesus yang bersabda: “Belajarlah dari pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Mt 11:29). Dalam pelayanan Yesus, kita melihat dua arah: pada Allah dan kita.

Pertama, pelayanan kepada Allah Bapa-Nya ditandai dengan ketaatan: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku, dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh 4:34). Pelayanan-Nya dalah utuh dan murni ketaatan pada perutusan dari Bapa-Nya. Single mindedness. Kedua, pelayanan Yesus bagi kita manusia ditandai dengan compassion (ikut menderita, se-derita). Ia menebus kita, tidak dengan mengulurkan tangan-Nya dari surga dan mengangkat kita dari ‘lumpur’ dosa ke atas, melainkan dengan terjun ke ‘lumpur’, tinggal di antara kita dan mengalami segala kelemahan manusia. Dia juga diperlakukan tidak adil, juga difitnah seperti yang dialami banyak orang lemah. Paulus merumuskan compassion Yesus: “Ia mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba… Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Fil 2:7). Dalam pelayanan-Nya ada keutuhan dan kemutlakan juga. Whole heartedness. Perlu contoh illustratif tentang compassion.

Pelayanan adalah kehormatan, karena ambil bagian dalam penebusan Kristus, tetapi juga beban kalau kita mengikuti Kristus dalam pola ketaatan dan juga compassion-Nya.


4.3. Persaudaraan


“Segala sesuatu yang kamu kehendaki orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh Hukum Taurat dan Kitab para nabi” (Mt 7:12). Terapkanlah pada dirimu sendiri! Demi memelihara persaudaraan ada dua nasihat yang layak diperhatikan.

Pertama, paham tertentu bisa menentukan sikap batin dan perilaku. Aku berbuat jahat pada seseorang, karena aku berpikir negatif tentang dia. Maka waspadailah pikiran! Dalam falsafah Hindu, pikiran itu ibarat si monyet yang sangat sulit ditangkap dan dikuasai. Kalau begitu, waspadailah itu! Dengan ilustrasi. Kedua, jangan menuntut dukungan sebagai syarat. Penerimaan atau dukungan memang selalu menyenangkan, kadang berguna, tetapi apakah memang perlu?

Pada awal penampilan-Nya Yesus sangat dipuji dan dicari. Lukas melapor: “Yesus mengajar di rumah-rumah ibadat dan semua orang memuji Dia (Lk 4:15). Tetapi pada perikop berikutnya, Lukas kembali menulis: “mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat. Mereka bangun lalu menghalau Yesus ke luar kota…” (Lk 4:28-29.

Di dalam pergaulan, menuntut penerimaan dan dukungan sebagai syarat persaudaraan, sangatlah riskan dan rawan. Perlu disadari adanya nilai-nilai lain, yang lebih besar dari pada penerimaan/dukungan, seperti mis. kemerdekaan batin, kebenaran, dll.

Dalam kesetiaan pada tugas pewartaan-Nya Yesus berbicara tentang roti hidup, kata-Nya: “Roti yang Kuberikan ialah daging-Ku” (Yoh 6:51). Dan Yohanes melapor: “Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia” (Yoh 6:66). Persaudaraan itu membutuhkan kemerdekaan batin (inner liberty).

Leave a Reply