Kamis, 23 September 2021

Kencan Dengan Tuhan (Selasa, 20 Juli 2021)

Bacaan: Mazmur 23:3-4
“Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.”

Renungan:
Suatu ketika ada seorang anak laki-laki berumur 8 tahun yang diajak oleh ayahnya untuk pergi mengunjungi kakeknya. Mereka pergi berjalan kaki. Ketika mereka berjalan baru sejauh satu kilometer, sang anak merasa sendi-sendi tulangnya terasa mau copot, otot-otot kakinya sudah terasa pegal dan pinggangnya terasa mau patah. Ketika sang anak melihat ke depan, ia pun bertanya kepada ayahnya, “Masih jauh ya, Yah?” Apa jalannya semua berbatu?” Kemudian sang anak melihat ke ayahnya dan ia melihat ayahnya tersenyum sambil berkata, “Ayo jalan terus. Pelan-pelan saja. Sini, Ayah gandeng.” Sang anak pun menjadi kuat kembali, rasanya ada tambahan tenaga yang tiba-tiba datang di tubuhnya. Akhirnya mereka sampai di rumah sang kakek. Sang anak menjadi tahu mengapa ia merasa capek selama dalam perjalanan, itu karena perhatiannya terpusat pada jauh dan beratnya perjalanan yang harus ia tempuh. Dan ia juga tahu mengapa waktu itu ia menjadi kuat kembali, itu karena ia melihat ayahnya dengan senyuman kasih sayang mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangannya.
Pengalaman si anak tersebut merupakan gambaran perjalanan hidup kita. Kadang-kadang kita merasakan betapa jauh dan lamanya perjalanan untuk mencapai satu tujuan yang diinginkan. Bangsa Israel, ketika mengadakan perjalanan menuju Kanaan, seringkali mengeluh karena beratnya medan yang harus mereka tempuh dan tantangan yang harus mereka hadapi. Hingga suatu saat mereka berkata, “Mengapakah Tuhan membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan istri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?” (Bilangan 14:3). Mereka hanya fokus pada berat dan jauhnya perjalanan. Mereka lupa bahwa Tuhan yang mereka kecam itu sanggup dan mau mengulurkan tangan-Nya untuk menuntun mereka, sehingga mereka tidak akan tergeletak. Daud pun sebenarnya juga mengalami hal yang sama, sampai dia bertanya kepada Tuhan, “Berapa lama lagi aku harus menaruh kekhawatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?” (Mzm 13:3). Tetapi akhirnya Daud bisa melihat Tuhan yang setia menyertai di dalam perjalanan hidupnya. Keyakinan ini yang membuat Daud berani menapaki jalan hidupnya sekalipun dia harus berjalan di lembah kekelaman.
Mungkin saat ini kita juga sedang merasakan beratnya perjalanan hidup kita, seakan-akan tidak sampai-sampai ke tujuan yang didambakan. Jangan fokus hanya pada masalah yang bisa membuat kita semakin gelisah. Sadar dan rasakan bahwa Tuhan sedang mengulurkan tangan-Nya untuk menuntun kita menempuh perjalanan itu. Tuhan Yesus memberkati.

Doa:
Tuhan Yesus, mampukan aku untuk dapat menjalani hidup ini yang semakin hari semakin berat, terutama di masa pandemi ini. Jangan biarkan masalah yang terjadi saat ini merampas sukacitaku. Ulurkanlah tangan-Mu dan biarkan aku berjalan bersama-sama dengan Engkau. Amin. (Dod).