Rabu, 27 Oktober 2021

Kencan dengan Tuhan (Senin, 28 Juni 2021)

Bacaan:
Amsal 29:23 “Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian.”

Renungan:
Seorang pria tua telah disewa bertahun-tahun oleh seorang anggota dewan kota muda untuk membersihkan puing-puing dari kolam mata air di celah-celah lereng timur pegunungan Alpen. Dari kolam mata air itu, saat musim semi yang indah, akan mengalir air menuju kota mereka. Dengan setia dan dalam diam, ia berpatroli di bukit-bukit, membuang daun dan cabang dan membuang lumpur yang akan membuat aliran air segar tercemar. Desa itu menjadi tempat wisata yang populer bagi wisatawan. Angsa yang anggun mengapung di kolam mata air musim semi yang bening. Pertanian begitu subur karena saluran irigasi yang bagus dengan air yang cukup. Bisnis berkembang pesat dan ada pemandangan indah dari restoran-restoran.
Tahun-tahun pun berlalu. Suatu malam dewan kota mengadakan pertemuan tengah tahunan. Saat mereka membicarakan masalah anggaran, seseorang melihat gaji yang dibayarkan kepada penjaga kolam mata air, kemudian ia bertanya, “Siapakah orang tua itu? Mengapa kita membayarnya setiap tahun? Tidak ada yang pernah melihatnya. Kita semua tahu, penjaga aneh bukit-bukit itu tidak melakukan pekerjaan dengan baik. Ia tidak kita perlukan lagi.” Akhirnya dengan suara bulat, mereka meniadakan anggaran untuk pria tua itu dan pria tua itu pun diberhentikan dari pekerjaannya. Selama beberapa minggu memang tidak ada yang berubah. Namun ketika mulai musim gugur, pohon-pohon merontokkan daunnya, ranting-ranting kecil berjatuhan di kolam mata air dan akibatnya menghalangi aliran deras kolam itu. Suatu sore di musim semi, kolam mata air tersebut berubah warna menjadi kecoklatan. Beberapa hari kemudian warna air bertambah gelap. Bahkan seminggu kemudian lendir menutupi sebagian dari air di kolam mata air itu dan bau busuk segera mencemari air yang mengalir ke desa. Roda bisnispun mulai bergerak lambat, beberapa bahkan harus berhenti. Angsa meninggalkan kolam mata air tersabut demikian pula para wisatawan. Berbagai penyakitpun mulai bermunculan. Dengan cepat dewan kota mengadakan pertemuan khusus. Mereka menyadari kesalahan mereka dalam penilaian. Mereka akhirnya mempekerjakan kembali penjaga kolam mata air itu. Dalam beberapa minggu kemudian sungai mulai terlihat bersih. Roda kehidupan mulai berubah dan dusun di pegunungan Alpen itu kembali menjadi tempat yang nyaman bagi para wisatawan.
Pernahkah kita menganggap remeh apa yang orang lain kerjakan untuk kita? Ya, begitu banyak orang yang merasa lebih pandai dibandingkan orang lain dan akhirnya meremehkannya. Ukuran kepintaran seseorang hanya Tuhan yang tahu. Alangkah bijaksananya jika kita bisa menghargai pekerjaan orang lain, sekecil dan seremeh apapun pekerjaan itu. Setiap kita membutuhkan pekerjaan dan hasil kerja orang lain. Jadi, marilah kita saling menghargai dan saling membutuhkan tanpa ada yang merasa paling besar dan paling dibutuhkan atau paling bermanfaat, karena kita semua diciptakan untuk saling melengkapi, saling mengisi dan saling membantu. Tuhan Yesus memberkati.

Doa:
Tuhan Yesus, berilah aku rahmat kerendahan hati agar aku mampu menghargai pekerjaan dan hasil kerja orang lain tanpa merendahkannya, karena selama aku hidup di dunia ini aku membutuhkan orang lain untuk melengkapi kemampuanku yang terbatas. Amin. (Dod).

Selamat pagi dan berkiprah di hari Senin. Tuhan Yesus Yang Maharahim dan Sang Raja Damai membentengi kita sekeluarga dan umat manusia di muka bumi yang berserah pada-Nya dengan para malaikat yang kudus dan menutup bungkus dengan Darah-Nya Yang Mahakudus serta melindungi kita sekeluarga dan manusia di seluruh dunia yang berserah pada-Nya dari pandemi Covid-19 serta memberi kesejahteraan dan kesehatan prima sepanjang tahun 2021. Amen. +BDGY.