Jumat, 30 September 2022

Retret Ekologis (hari kedua 30 Agustus 2022)

“Jangan Sampai kita adalah Generasi Terakhir yang Bisa Temukan Capung di Tana Toraja

Romo Marinus Tellu dari Rantetayo

Perjalanan Retret Ekologis hari kedua

Pukatnas.id Hari kedua Retret Ekologis diawali refleksi atas bahan hari pertama. Peserta retret semakin menyadari bahwa inti terdalam spiritualitas ekologi adalah cinta dan hormat kepada Tuhan Sang Pencipta yang menciptakan seluruh alam semesta.

Maka, semua ciptaan adalah saudara dan saudari. Itulah yang juga dihayati Santo Fransiskus Assisi. Maka tumbuhlah sikap kagum terhadap alam semesta yang indah dan luar biasa.

Tumbuh kesadaran ekologis untuk ikut merawat semua ciptaan.

Suasana Pusat Ziarah Keluarga Kudus Nazaret (foto: Pst. Ferry SW)

Generasi terakhir di Tanah Toraja sulit temukan capung

Romo Marinus Tellu dari Rantetayo yang juga adalah pengawas CU Sauan Sibarrung kemudian sharing tentang munculnya ketakutan bahwa siapa tahu kita ini adalah generasi terakhir ketika mulai menyadari bahwa di Tana Toraja saat ini sudah sangat sulit untuk menemukan capung.

Itu artinya bahwa alam Tana Toraja sudah sedemikian rusaknya, karena terkena pupuk dan pestisida kimia sedemikian rupa sehingga capung tak mampu hidup lagi. Manusia ternyata adalah penyebab kemusnahan capung yang akan berujung kemusnahan manusia.

Daftar dosa ekologis

Peserta retret juga diminta utk membuat daftar dosa-dosa ekologis.

Pada umumnya yang diakui adalah soal sampah plastik sekali pakai langsung buang, soal kecanduan merokok, soal membuang sampah sembarangan, terlalu banyak konsumsi daging dan ikan, membeli pangan impor, tidak hemat air dan listrik, jumlah pakaian yang terlalu banyak, penggunaan bahan kimia berlebihan untuk kosmetik, sabun, shampoo, dan produk lainnya.

Peserta juga banyak membahas soal pertanian organik. Secara khusus dibahas bagaimana sektor pangan memberi kontribusi 26-54 % terhadap pemanasan global. Maka, gerakan pangan lokal dan organik adalah solusi yang bisa dilakukan semua orang.

Di atas puncak bukit berbatu-batu karst ini tertancap sejumlah salib. Sementara di dalam sebuah “gua” karst ada altar untuk merayakan Ekaristi. (Foto: Pst Ferry SW)

Jalan salib menuju ketinggian

Sesudah makan, acara retret dilanjutkan dengan refleksi jalan salib yang dipimpin Pak Michael Andin. Jalan salib ini bertema ekologis dan keluarga.

Pak Michael Andin yang asli Toraja mengawali jalan salib dengan mengajak peserta memandang sawah dan para petani dan mengucapkan syukur atas kehidupan yang sdh diberikan Tuhan.

Peserta mengikuti Jalan Salib (Foto: Pst. Ferry SW)

Juga berterima kasih kepada para petani yang telah bekerja keras menyediakan pangan. Kami semua mengatupkan tangan dan membungkuk memberikan hormat.

Sepanjang jalan salib di tiap stasi Pak Michael mengajak melihat jalan salib dari sudut keluarga, alam dan ekologi, spiritual dan religi, serta edukasi dan kultural.

Jalan salib keluarga berusaha menghayati nilai-nilai keluarga, peran laki laki dan perempuan dalam keluarga, orangtua, dan anak.

Kekayaan alam Tana Toraja

Dari sudut alam dan ekologi melihat berbagai pohon, bunga, burung, kupu kupu, serangga dll sebagai kekayaan alam yang luar biasa. Secara khusus disoroti pohon pangi atau kluwek atau kepayang yang tumbuh sepanjang jalan salib.

Pohon yg memberikan seluruh bagiannya mengajak kita punya semangat berbagi. Juga melihat batu karang karst, stalaktit dan stalakmit yang terbentuk jutaan tahun dan gua-gua yang luar biasa termasuk makam Yesus dan kubur kosong.

Juga ada akar akar pohon yang membentuk corpus tubuh Yesus secara alamiah.

Secara spiritual dan religi peserta jalan salib diajak menghayati penderitaan Yesus. Peserta juga diajak memandang semuanya dalam rangka spiritualitas ekologi bahwa semua yang ada di bumi ini unik, beragam, terpadu, dan saling terhubung.

Diorama di Pusat Ziarah Sappa Bayo-bayo (Foto: Pst Ferry SW)

Kita diajak menyelesaikan Jalan Salib kehidupan sampai tuntas dengan setia.

Secara edukasi dan kultural peserta diajak menghargai tradisi dan nilai nilai budaya Toraja. Di jalan salib juga ada kompleks makam yang sdh ratusan tahun. Di tempat itu tiap tahun diadakan misa arwah.

Selesai Jalan Salib peserta diajak untuk refleksi dan menyimpulkan langkah langkah pertobatan ekologis yaitu membuat komitmen pertobatan ekologis secara individual. Dilakukan bersama keluarga, dan komunitas stasi atau paroki atau lembaga.

Sebagian besar komitmen adalah mendukung pangan lokal, mengurangi daging, merintis koperasi pangan, dan cara hidup ekologis mengurangi sampah dan rokok, dan lain-lain.

Suasana Jalan Salib (Foto: Pst Ferry SW)

Melayat ibunda Mgr. John Liku Ada’

Diantar Romo Marinus dan Pak Michael, saya sempat melayat Ibu Maria Tammu, ibunda dari Uskup Keuskupan Agung Makassar Mgr John Liku Ada’ yang meninggal dunia pada Februari 2022 dan akan diupacarakan akhir Desember 2022.

Bagi orang Toraja ibunda masih “tidur” dan hadir disemayamkan di rumah dan dalam waktu dekat akan dipindahkan ke rumah adat yg baru yg hampir selesai dibuat.

Almarhum ayah Mgr. John Liku Ada’ adalah imam terakhir dari agama asli Toraja, Alu’ Todolo. Mgr John Liku Ada’ adalah anak pertama dari lima bersaudara. Seluruh keluarga besar mempersiapkan upacara yang akan diadakan Desember 2022 nanti.

Tongkonan tempat Jenazah Ibunda Mgr. John Liku Ada’ di semayamkan (Foto: Pst Ferry SW)

Penutupan Ret-ret

Retret ditutup dengan retret. Homili dari ensiklik Laudato Si‘ dari Paus Fransiskus khususnya no 14, 202, dan 212.

Semoga kita semua sadar dan mau berubah. Tiap perbuatan baik akan menular serta membantu kita menghayati hidup ini berharga dan bermakna. Maka mereka yang sdh sadar dan bertobat secara ekologis pasti tidak akan berpangku tangan. Kita semua dipanggil utk merawat rumah kita bersama dengan tulus dan gembira sebagai perwujudan iman dan cinta kepada Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta.

Perayaan Ekaristi di hari kedua Retret Ekologis di Pusat Ziarah Keluarga Kudus di Tanah Toraja (Foto: Pst. Ferry SW)

Penulis:Pastor Ferry Sutrisna Wijadja (Romo Projo keuskupan Bandung)
Ketua Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup, pemimpin Eco Camp dan Eco Circle di Bandung.

Leave a Reply