Kamis, 23 September 2021

Ignasius Jonan: Pemimpin Perlu Modal Bakat dan Pengalaman

Tidak setiap orang ditakdirkan dengan bakat menjadi seorang pemimpin. Namun, untuk menjadi pemimpin tidak cukup dengan hanya mengandalkan bakat semata, tetapi juga pengalaman. Hal itu dikemukakan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, saat menyampaikan kuliah umum Executive Series Transformational Leadership, yang bertajuk The Secret to Build High Performance Organization, Jumat (23/2/2018) di Auditorium MM UGM.

Jonan mengaku tidak menyangka diberi kesempatan untuk menjadi pemimpin. Padahal, ketika sekolah di luar negeri dulu, hanya menuruti keinginan sang ayah. “Ayah saya ingin saya sekolah saja, setelah selesai sekolah ayah saya meninggal,” kenang Jonan yang pernah mengenyam pendidikan di Colombia dan Kennedy School di Amerika Serikat.

Bagi Jonan, menjadi pemimpin tidak bisa dibangun dari bangku sekolah, namun berasal dari pengalaman hidup. “Orang itu bisa memimpin dengan baik, setengahnya bakat dan setengahnya pengalaman hidup. Bila Anda tak punya bakat maka Anda harus mencari pengalaman,”paparnya.

Menjadi pemimpin, menurut Jonan, tak ubahnya seperti seorang seniman. Ia mengibaratkan seorang pelukis, seorang seniman lukis bisa melukis dengan baik karena sudah ada bakat seni yang dimilikinya. “Kalau tidak, ya, paling hanya gambar dua gunung dan matahari di tengah,”kata Jonan yang disambut tawa para mahasiswa.

Apabila kepemimpinan yang hanya mengandalkan popularitas tanpa disertai bakat dan pengalaman maka akan berdampak pada hasil kinerja yang buruk. “Menjadi pemimpin mengandalkan popularitas umumnya hasilnya akan selalu buruk,”katanya.

Seorang pemimpin yang baik harus mampu memberikan contoh serta menyampaikan visi dengan baik. Namun, sebaiknya visi yang disampaikan itu setidaknya bersifat sederhana dan mudah dimengerti oleh orang lain. “Visi itu bisa dimengerti oleh pengikut Anda,” ungkapnya.

Jonan menceritakan pengalamannya saat diberikan amanah menjadi Dirut PT KAI pada 2009 lalu. Pada saat itu, ia hampir mau mengundurkan diri karena melihat profil pegawai yang berjumlah sekitar 26 ribuan orang di KAI sebagian besar diisi oleh mereka yang hanya lulusan SD dan SMP. “Yang sarjana hanya 86 orang. Saya berusaha harus bisa menyampaikan visi pada pegawai yang berumur 47 tahun yang lulusan SD,”ungkapnya.

Menurut Jonan dalam memimpin sebuah organisasi ia selalu terbiasa membuat target jangka pendek dan mudah untuk dilakukan. “Bikin target yang mudah dengan tiga bulan ada hasilnya agar orang jadi bersemangat. Dulu saya urus toilet biar tetap bersih,” katanya.

Setelah target mengurus toliet selesai, kata Jonan, ia membuat kebijakan larangan merokok terutama bagi masinis ketika sedang bekerja. Setelah semua berjalan, kata Jonan, akhirnya dari sekian banyak lulusan SD tersebut mampu meningkatkan layanan perusahaan kereta api menjadi semakin baik.

Di PT KAI, kata Jonan, ia terbiasa keliling di setiap stasiun bahkan hal itu juga ia terapkan di kementeriannya sekarang ini di kantor ESDM. Bagi Jonan memimpin harus memiliki rasa kemanusiaan jangan sampai pernah memiliki dendam kepada siapa pun. “Memimpin itu tidak boleh menyimpan dendam, bila ada rasa dendam maka sama saja kita akan merusak kepemimpinan diri sendiri,”ungkapnya.