Selasa, 21 September 2021

Kencan Dengan Tuhan (Sabtu, 4 September 2021)

Bacaan: Rut 1:16-17
Tetapi kata Rut: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku;
di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apa pun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!”

Renungan:
Selama perang revolusi seorang perwira muda dalam ketentaraan Inggris, sebelum berlayar bersama resimennya, bertunangan dengan seorang wanita. Tapi dalam salah satu pertempuran, perwira itu terluka parah dan kehilangan sebuah kakinya. Oleh karena itu ia menulis surat kepada calon istrinya untuk memberitahu keadaannya. Surat balasannya pun tiba. Dengan harap-harap cemas ia membukanya. Sebenarnya perwira tersebut sangat takut mendengar tanggapan dari tunangannya itu. Ia berpikir pasti kekasihnya tidak akan mau lagi melanjutkan hubungan mereka. Namun jawabannya di luar dugaannya. Wanita tunangannya berkata bahwa ia bersedia menikah dengannya bila ada cukup tubuh untuk memuat jiwanya.
Kisah kesetiaan ini mirip dengan kisah antara Rut dengan mertuanya, Naomi. Rut setia mengikuti Naomi, bukan pada saat ia punya segala-galanya atau berada di posisi puncak. Sebaliknya ia tetap mengikuti wanita tersebut saat dia tidak punya apa-apa lagi. Tidak punya anak dan tidak punya harta benda. Kalau direnungkan, bisakah kita bersikap seperti itu? Kebanyakan kita bisa setia mendampingi pasangan, ingin terus bekerja di sebuah perusahaan bahkan mau berjalan dengan Allah, saat keadaan baik-baik saja. Namun ketika orang yang kita kasihi kehilangan pekerjaan, perusahaan kita terlilit hutang, bahkan Tuhan sendiri tampaknya diam, sikap kita cenderung berubah. Kesetiaan memang kadang-kadang terlihat seperti hal yang bodoh. “Sudah tahu tidak bisa diharapkan lagi, tapi masih berharap. Sudah tahu tidak diberkati, tapi tetap mengasihi.” Itulah pemikiran sebagian orang. Namun sebenarnya situasi ini adalah ujian, apakah kita setia pada seseorang dan Tuhan, hanya karena sesuatu ataukah benar-benar tulus.
Ingatlah, siapa diri kita sesungguhnya bukan terlihat pada saat hari-hari kita penuh bunga, namun tampak saat kita dipenuhi air mata. Bisakah kita setia? Tuhan Yesus memberkati.

Doa:
Tuhan Yesus, ampuni aku karena terkadang kesetiaanku pada seseorang dan pada-Mu sendiri hanya kulakukan karena mengharap sesuatu bukan karena ketulusan hatiku. Ubah pemikiranku sehingga rasa setia yang ada pada diriku menyerupai rasa setia-Mu pada diriku yaitu kesetiaan tanpa batas. Amin. (Dod).