Kamis, 23 September 2021

Kencan Dengan Tuhan (Sabtu, 7 Agustus 2021)

Bacaan: Amsal 31:10, 27-29
“Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.
Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya.
Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia:
Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua.”

Renungan:
Sebuah rumah di Inggris habis di makan si jago merah. Semua orang di dalam rumah itu sudah berada di luar rumah, kecuali seorang bayi yang tertinggal di tempat tidurnya. Menyadari hal itu, sang ibu berlari kembali ke dalam rumah untuk menyelamatkan bayinya tersebut. Setelah kejadian itu, orang-orang tidak pernah melihat tangan sang ibu, karena ia selalu membungkus tangannya. Suatu sore ketika sang ibu berada di kamar dan melepas bungkus tangannya, anak perempuannya yang selamat dari kobaran api itu tiba-tiba masuk ke kamarnya. Ia sangat terkejut melihat tangan ibunya yang begitu buruk dan menakutkan. Sang ibu mencoba untuk menenangkan puterinya. Ia menyuruh puterinya duduk dan menceritakan mengapa tangannya menjadi mengerikan seperti itu. “Mungkin saat ini lebih baik ibu berterus terang kepadamu, Nak. Suatu hari ketika engkau masih bayi, rumah kita kebakaran. Karena panik semua orang segera berlari keluar rumah, tetapi engkau tertinggal di tempat tidurmu. Ketika ibu sadar kau masih di dalam, ibu berusaha masuk ke dalam rumah untuk menyelamatkanmu. Ibu membungkusmu di dalam selimut yang tebal dan memberikanmu kepada seseorang lewat jendela. Api yang semakin menyala tidak memungkinkan ibu untuk keluar dengan selamat. Tanpa pikir panjang ibu mencoba memanjat jendela dan saat itulah tangan ibu terbakar. Walaupun tangan ibu terbakar, tetapi nyawa ibu luput dari kematian. Setelah berada di luar, ibu melihat luka bakar yang sangat mengerikan dan luka itu sangat menyakitkan. Dokter berusaha melakukan tindakan yang terbaik, tetapi luka bakar itu memang sangat parah sehingga tangan ibu menjadi seperti ini.” Mendengar cerita sang ibu yang sudah berkorban untuknya, gadis remaja itu memandang ibunya. Kemudian ia memegang tangan ibunya yang mengerikan itu, dengan berlinang air mata ia menciumnya dan menaruhnya di wajahnya sambil berkata, “Ibu, bagiku tangan ibu adalah tangan yang terindah di dunia.”
Kasih sayang seorang ibu tidak dapat diukur atau dibatasi oleh keadaan yang sulit. Justru di dalam keadaan yang sangat sulitlah kasih ibu menjadi nyata. Ketika kita terbaring sakit, ibu menjadi orang yang paling resah dan peduli. Dengan tangannya yang kasar namun cekatan ia menyelimuti kita, memberi rasa aman dengan membelai rambut kita, membuat bubur untuk kita, memakaikan baju hangat dan sebagainya. Ibu rela melepaskan banyak hak dan waktu yang bisa dinikmatinya dengan santai, asalkan kita anak-anaknya dapat merasa senang, bahagia dan sehat. Ibu kita patut mendapatkan penghormatan dan kasih sayang yang besar dari kita, karena kemuliaan hati dan perbuatannya. Jangan pernah melupakan dan menyangkal apa yang pernah dikerjakan oleh tangan yang terindah di dunia ini, yaitu tangan ibu kita. Tuhan Yesus memberkati.

Doa:
Tuhan Yesus, berkatilah tangan ibuku yang menjadi bukti kasih sayangnya yang sangat besar, yang selalu memberi yang terbaik untukku. Amin. (Dod).