Jumat, 30 September 2022

Retret Ekologis (hari pertama 29 Agustus 2022)

Pukatnas.di Pada tanggal 29 – 30 Agustus 2022, CU Sauan Sibarrung Tana Toraja mengundang para anggota CU dan aktivis gereja untuk mengikuti retret ekologis dengan tema Menumbuhkan Kesadaran Ekologis dan Membangun Pertobatan Ekologis dengan fasilitator Rm Ferry Sutrisna Widjaja dari Eco Camp Bandung di Pusat Ziarah Keluarga Kudus Nazaret di Sa’pak Bayo-bayo di Sangalla Tana Toraja.

Hari pertama 29 Ags ini peserta diajak utk menyadari keterhubungan dengan alam.

Ada 58 peserta yang terdiri dari 29 pria dan 29 wanita. Peserta berasal dari Luwu, Pare-Pare, Deri, Rembon, Rantetayo, Makale, Mengkendek, Sangalla, Tombong Lambe’ Bokin, dan Yayasan Palisu Padang di Makale Juga ikut serta 9 frater dari Tahun Orientasi Rohani Keuskupan Makassar di Sangalla. Juga ikut sebagai peserta Rm. Marinus Tellu dari Rantetayo yang pengawas CU Sauan Sibarrung, Rm Jimmy O.Carm dari Deri, dan Sr. Threes Bueng BKK dari Pare-Pare. Rm. Bartolomeus Pararak (Vikep Toraja), Rm. Valens Belo dari Makale, Rm. Yans Sulo Pagana’ dari Makale , Rm. Cornel Tandiayuk (Rektor TOR), dan Rm. Paulus Tongli dari Rantepao sempat mampir menengok para peserta retret.

Pembukaan Ret-ret Ekologis di Pusat Ziarah Keluarga Kudus Nazaret, Sappa Bayo-bayo (Foto: Pst. Ferry SW)

Retret dibuka dengan menceritakan bagaimana fasilitator mengikuti training Pemanasan Global di Melbourne Australia tahun 2009 yg diadakan Al Gore mantan wapres AS. Tahun 2009 itu kadar CO2 adalah 387 ppm.

Tahun 2017 kadar CO2 sudah mencapai 417 parts per million (ppm). Saat ini bumi sudah semakin panas. Di bbrp daerah panas ada yg sdh melebihi 40o C. Di Cina aspal meleleh karena panasnya udara. Di California AS dan bbrp negara Eropa panas melebihi 40o C. Di Death Valley di Texas AS bahkan bisa mencapai 54oC.
Para ahli mengatakan bila kadar CO2 mencapai 450 ppm maka manusia sdh tidak akan tahan lagi tinggal di luar ruangan. Kalau kita tidak berubah maka kadar CO2 pada tahun 2045 saat Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaan akan mencapai 463 ppm. Itu artinya sdh jauh melebihi batas yang bisa ditoleransi manusia. Maka manusia harus berubah. Kita adalah generasi terakhir.

Dialog Kakek vs Cucu

Para peserta retret diajak untuk mengadakan dialog kakek nenek dengan cucu. Kakek nenek sempat mengalami dunia yang masih bersih, indah, dan sejuk. Sungai masih bersih airnya. Hutan masih lebat pohonnya. Udara masih terasa segar dan bersih. Saat ini sungai sdh kotor, hutan banyak yg gundul, dan udara banyak polusi.

Rangkaian Kegiatan Ret-ret Ekologis hari pertama (Foto: Pst Ferry SW)

Sebagian kakek nenek sudah berusaha menanam pohon dan menjaga agar sungai dan udara tetap bersih namun ada banyak kegagalan. Sebagian kakek nenek merasa malu karena kurang sadar, kurang peduli, atau kurang berjuang utk merawat bumi. Namun cukup banyak juga kakek nenek yang sdh sadar dan berusaha merawat alam dgn menanam pohon dan menjaga kebersihan. Kakek nenek juga diberi kesempatan untuk memberi nasehat kepada cucu. Sebaliknya cucu bisa berterima kasih atau menyatakan kekecewaan mereka kepada kakek nenek karena hidup cucu jauh lebih berat dan susah karena alam semakin rusak dan kotor.

Menyusuri Sungai

Para peserta kemudian diajak melakukan perjalanan keliling pusat ziarah Sa’pak Bayo-Bayo untuk mengamati alam dalam kesunyian dan menemukan inspirasi dari alam.

Sepanjang perjalanan peserta menemukan inspirasi dari air, batu karang, bunga-bungaan, dan pohon.

Para peserta retret juga diajak masuk menikmati air Sungai Sa’pak Bayo-Bayo yg mengalir di pusat ziarah dan bersyukur atas baptisan serta membaharui janji baptis.

Para peserta retret masuk menikmati air Sungai Sa’pak Bayo-Bayo yg mengalir dan bersyukur atas baptisan serta membaharui janji baptis. (Foto: Pst. Ferry SW)

Peserta diminta sharing sesuai kelompok inpirasi dan menyampaikan kesimpulan bersama di saat pleno dgn semua peserta. Mereka menghargai air sebagai yang memberi kehidupan, batu karang yang kuat dan juga memberi kesempatan tumbuhnya berbagai tumbuhan, dan bunga yang memberi keindahan. Mereka juga belajar dari pohon yg memberikan naungan, keteduhan, cadangan air, oksigen, kayu, buah-buahan, dan berbagai hal lainnya. Pohon yg bekerja tanpa lelah dan terus memberi berbagai hal kepada manusia. Maka manusia juga diundang utk belajar memberi tanpa lelah dan dengan gembira.

Pleno Peserta Ret-ret Ekologis (Foto: Pst. Ferry SW)

Malam hari retret ditutup dengan menonton film Earth Pilgrim dari Satish Kumar yang menggambarkan keindahan alam Dartmoor di Inggris selama setahun. Digambarkan perubahan musim yg luar biasa dan kekaguman thd alam semesta yg dahsyat.
Para peserta diajak untuk juga mengagumi keindahan alam semesta di Tana Toraja dan berjanji untuk merawat seluruh ciptaan dengan rasa kagum dan kacamata iman kepada Allah yang menciptakan semuanya. Semoga bisa dibuat video keindahan Tana Toraja dari kacamata iman seperti video Earth Pilgrim yang dibuat Satish Kumar dari Schumacher College di Inggris. Pusat Ziarah Keluarga Kudus Nazaret Sa’pak Bayo-Bayo diharapkan sekaligus menjadi tempat belajar utk menumbuhkan kesadaran ekologis dan membangun pertobatan ekologis.

Hari kedua retret akan mengolah berbagai situasi kehidupan sehari-hari yang menggambarkan krisis ekologis dengan harapan tumbuh kesadaran dan pertobatan ekologis. Antara lain akan diolah masalah plastik, sampah, pangan, dan rokok.

Penulis: Pastor Ferry Sutrisna Wijadja (Romo Projo keuskupan Bandung)
Ketua Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup, pemimpin Eco Camp dan Eco Circle di Bandung.