Jumat, 30 September 2022

Mengunjungi Rammang Rammang, Hidden Gem di dekat Makassar

“Rammang Rammang tdk jauh dari Makassar namun orang Makassar saja banyak yg tidak pernah bahkan tidak tahu apa dan di mana Rammang Rammang”

Pastor Ferry SW

Pukatnas.id Gugusan pegunungan karst Rammang Rammang di Maros Sulawesi Selatan tidak jauh dari Makassar adalah gugusan pegunungan karst kedua terbesar. Nomor satu di Cina. Luasnya 43.700 hektar dan memiliki 280 gua yg sdh diteliti. Sebanyak 16 gua adalah situs prasejarah. Masih banyak gua lain yang belum diteliti. Terbentuknya jutaan tahun yang lalu. Dihuni manusia puluhan ribu tahun yang lalu. Jejaknya adalah lukisan manusia purba berusia sekitar 40 ribu tahun di dinding-dinding tebing.

Atas saran Weilin Han konsultan pendidikan yg sering membantu Eco Camp saya berkunjung pertama kali ke Rammang Rammang tahun 2021 sesudah retret para suster kongregasi Suster Perawan Maria (SPM) ditemani beberapa suster SPM dan Rm. Wong Wangge SVD misionaris di Ghana yang sedang cuti. Saat itu kami tidak bermalam.

Kali ini seusai retret ekologis di Pusat Ziarah Sa’pak Bayo-Bayo saya memutuskan utk kembali ke Rammang Rammang namun akan bermalam utk melihat kelelawar terbang di sore hari dan matahari terbit.

Raymond anak pak Paul Surya dan bu Mary Johnson yang tinggal di El Paso Texas AS yg sedang berlibur di Indonesia saya ajak juga ke Rammang Rammang sepulang dari Toraja. Raymond alumni Atmosoheric Engineering dari Michigan University di Ann Arbor AS.

Bersama Raymond (baju biru) alumni Atmosoheric Engineering dari Michigan University di Ann Arbor AS. (Pst. Ferry SW)

Tiba di Makassar

Sesudah terbang dari Toraja ke Makassar kami dijemput pak Julius Tedja dan Aldo Tedja putranya untuk makan siang. Saya sempat ngobrol dengan pak Julius Tedja yang adalah Ketua PUKAT Nasional atas saran pak Robert Hadi mantan Ketua PUKAT Nasional dari Bandung. Kami ngobrol kemungkinan kerjasama PUKAT di Makassar dgn masyarakat Toraja khususnya CU Sauan Sibarrung dalam bidang pangan, UMKM, pariwisata, dan diklat tenaga kerja.

Kami diantar Aldo Tedja dari Makassar ke Dermaga 1 Rammang Rammang. Dengan Aldo kami ngobrol tentang 4 peluang bisnis ekologis yaitu untuk mendirikan fasilitas perumahan lansia, koperasi pangan, aneka jasa home service, dan catering makanan enak dan sehat.
Jarak Makassar ke Rammang Rammang 43 km dan ditempuh sekitar 1 jam dengan mobil pribadi.
Pak Ridwan guide kami tahun lalu sudah menunggu dengan perahunya.

Menyusuri Sungai ke Rammang-Rammang

Lama perjalanan menyusuri sungai menuju Rammang Rammang sekitar 30-40 menit dgn biaya 350-450 ribu pp.

Kami sempat berhenti di Taman Batu yang sangat unik bentuknya pipih spt layar dan seperti candi. Tahun lalu kami ke gua Kunang Kunang karena banyak kunang kunang kalau malam hari. Tapi kali ini tdk bisa krn sore air sudah surut dan perahu bisa kandas.

Kami bermalam di rumah keluarga Daeng Serang sebelah mushola satu satunya di Kampung Berua dermaga tiga.

Biaya menginap termasuk makan malam dengan ikan, telur dan sayur hasil panen sendiri per orang 150-200 ribu. Mereka hanya punya seorang putri yang masih SMP di Maros dan tiap hari pulang pergi sekolah naik perahu diantar ayahnya. Mereka punya warung, sawah, sapi, dan kolam untuk beternak udang dan ikan. Hampir semua orang di Rammang Rammang masih bersaudara dan punya pekerjaan yg serupa yaitu petani dan pengusaha udang dan ikan dari kolam di samping rumah mereka. Harga udang lumayan tinggi sekitar 100-150 ribu per kg tergantung besarnya. Kalau musim panas panen udang lebih banyak dan lebih besar. Kalau musim hujan kurang bagus panennya.

Sore hari saya melihat ribuan kelelawar terbang. Melihat arah terbangnya putri pak Daeng Serang mengatakan nanti malam akan hujan. Ayah pak Daeng Serang memasang mesin pompa untuk mengeringkan kolam untuk persiapan menebar benih udang dan ikan.

Menginap di Rammang-Rammang

Malam kami tidur di kamar pak Daeng yang disewakan. Mereka sendiri tidur di luar kamar. Katanya akan ada tambahan kamar tidur dan toilet. Rumah mereka ini baru dibangun tahun ini dan masih belum tuntas. Kayunya dibeli dari kota dan ditarik perahu lewat sungai dengan ditenggelamkan dan diikat di belakang perahu. Untuk membuat rumah dibutuhkan biaya yang lumayan besar sampai 300-500 juta. Mereka sering menerima tamu untuk bermalam termasuk orang asing.

Mushola dibangun atas bantuan Bank Indonesia tahun 2017 dan satu satunya di kampung Berua yg dibangun di atas tanah Daeng Serang. Daeng Serang juga yg bertugas membersihkan mushola. Masjid ada Dermaga dua.

Saya yakin bahwa Rammang Rammang dan Sa’pak Bayo Bayo sebenarnya masih gugusan pegunungan karst yang sama. Saya melihat banyak kesamaan bentuk, warna, dan gua-guanya. Fasilitas Pusat Ziarah Sa’pak Bayo Bayo juga lebih lengkap. Tinggal di tambah tempat parkir agar lebih banyak orang bisa datang.

Malam itu kami berdua adalah tamu satu satunya yang bermalam. Rombongan turis dari Palembang yang kami jumpai di Toraja juga mampir ke Rammang Rammang.

Tahun lalu saya ke Grand Canyon dan Sedona di AS yang dikunjungi puluhan juta orang setiap tahunnya. Rammang Rammang dikunjungi 50-75 ribu orang setiap tahun. Mgp Grand Canyon dan Sedona lebih banyak dikunjungi ? Selain fasilitas untuk tamu agaknya juga menyangkut kebiasaan orang Indonesia.

Di Rammang Rammang ada hotel Eco Lodge yg bagus dan home stay di rumah penduduk. Hotel di Makassar cukup banyak. Jarak dari Makassar ke Rammang Rammang juga dekat.

Hotel Eco Lodge (foto: Booking.com)

Namun saya perhatikan orang AS lebih memprioritaskan main ke alam daripada orang Indonesia. Sering saya lihat orang tua menggendong anak anak mereka yg masih kecil utk hiking ke alam. Anak yg besar jalan sendiri. Orang tua tua juga masih senang rekreasi ke alam. Di banyak tempat sudah disediakan jalur kursi roda dan kemudahan untuk orang tua dan orang yang berkebutuhan khusus.

Rammang Rammang tidak jauh dari Makassar namun orang Makassar saja banyak yang tidak pernah bahkan tidak tahu apa dan di mana Rammang Rammang. Berkali kali saya ke Makassar dan jarang diajak berkunjung ke Rammang Rammang.

Pagi hari kami bangun agak subuh untuk melihat matahari terbit. Alangkah indahnya malam yang hening bertaburan bintang yang sangat jelas karena tidak ada polusi. Alangkah indahnya ketika perlahan lahan sinar matahari mulai tampak semakin terang. Kami meninggalkan Rammang Rammang dengan perasaan bahagia.

Penulis: Pastor Ferry Sutrisna Wijadja (Romo Projo keuskupan Bandung)
Ketua Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup, pemimpin Eco Camp dan Eco Circle di Bandung.

Leave a Reply